Beladiri sendiri dalam tujuan umum
dibagi menjadi dua yaitu SPORT dan TRADISIONAL, dimana:
1.Beladiri SPORT bertujuan
untuk meraih prestasi tentunya ada jurus-jurus atau gerakan yang dihilangkan
dan dilarang sehingga jika digunakan maka akan berakibat pelanggaran. Karena
itulah dalam pelatihannya beladiri SPORT memang ditujukan untuk bertarung mengikuti
aturan-aturan yang berlaku, untuk memenangkan pertandingan, bukan memenangkan
pertarungan.
2.Beladiri tradisional lebih
mengutamakan
ke jalan hidup, yang dipelajari masih gerakan-gerakan untuk
melumpuhkan, membunuh dan menghabisi, namun pada tingkatan tertinggi
pada
beladiri tradisional kita akan diarahkan untuk bersatu dengan alam dan
mencapai
pencerahan karena tujuan beladiri tradisional adalah sebagai jalan
hidup. beladiri ini tidak dipertandingkan selalu berusaha memenangkan
pertandingan secepat mungkin dalam hal ini KTC_COMBAT mempunyai tujuan
tradisional untuk pertahanan diri.........
Level stamina petarung dibagi 3 yaitu :
1.
Seseorang material art jika ia bertarung dengan waktu 45 menit saja
..... bagaikan petinju profesional dimana bertarung dengan 15 ronde x 3
menit ini memerlukan stamina yang tinggi, dan latihan full
time......... dalam hal ini seperti sholimse yang full time untuk bela
diri dan agama.
2.
jika ia bertarung dalam waktu 9 menit ....bagaikan atlit bela diri
sport yang bertarung 3 ronde x 3 menit disini pun diperlukan latihan
yang intensif dan pelatnas........
3.
bertarung hanya 3 menit. ini material artis yang terbanyak dan dimana
ia sebagai pengemar dan penyuka olah raga beladiri............
dalam hal ini kita bisa menempatkan stamina kita dimana?
level
berapa ...... sehingga jika kita sebagai orang matrial art dapat dapat
mencapai tujuannya ... untuk itu jika kamu pada posisi 3 yang dimana
hanya mampu bertarung 3menit dan jika lebih cenderung kalah maka untuk
itu harus berlatih pada pakem beladiri tradisional.
Galau
beladiri ini sering terjadi karena dalam latihan hanya yang praktis dan
satu satu tanpa ada akhir gerakan yang melumpuhkan lawan.
Koichi Tohei
,seorang Pewaris Aikido (murid Utama Master Morihei Uyeshiba)
berkata:``Dalam suatu olah raga sport ,dimana tujuan dari latihan adalah untuk
mencapai kemenangan dalam pertandingan,terdapat peraturan dan ketentuan
yang harus ditaati dan diperhatikan;umpama,masing masing harus memegang
tepi baju lawan atau sabuknya,tidak diperbolehkan memukul dibawah
sabuk,tidak boleh menendang,menggigit atau menusuk mata dan lain lain.
Tanpa adanya peraturan peraturan itu,pasti olah raga sangat
berbahaya.Hal ini baik bagi olah raga,tapi apabila kamu berharap
mempraktekkan apa yang diperoleh dalam latihan seperti itu untuk
menghadapi perkelahian sungguh sungguh,tidak akan menguntungkan.
Seni beladiri haruslah sesuatu yang bisa diandalkan dalam perkelahian
sesungguhnya.Kamu tidak perlu mempergunakan seni beladiri terhadap
seseorang yang menyerangmu secara ...gurau....,tetapi apabila lawanmu sedang
bersungguh sungguh dan bertujuan untuk mencelakakan dirimu,kamu tidak
bisa berkata `salah` terhadap segala sesuatu yang ia lakukan.
Kamu tidak boleh berdalih `` saya berlatih dengan memegang tepi baju
lawan,jadi kamu juga harus demikian,jangan menendang saya sungguh
sungguh,karena itu adalah pengecut dan melanggar ketentuan ``atau``saya
belajar berkelahi hanya dengan memukul,jadi jangan mencekik leher aya``.
Bukan soal bagaimana dia menyerangmu,kamu harus berusaha untuk melawan
serangannya dan mengatasinya.Apabila kamu berlatih tergantung pada suatu
peraturan,akan menjadi kebiasaan didalam perkelahian sesungguhnya,kamu
akan berkelahi dan mempertahankan diri terikat pada kebiasaan itu.
Suatu contoh yang dialami Master xxx suatu aliran seni beladiri yang memegang
lawannya pada pakaiannya untuk melemparkannya, dia sendiri tertikam
sebagai akibatnya,tanpa mengetahui lawan memegang apa pada tangannya
adalah tindakan bodoh jika ia memegang lawan dari depan. shg ia harus terima ,dan tidak usah terkejut
apabila tertikam.
Kebiasaan pada latihan sehari hari tentu saja tiba tiba keluar secara
refleks,karenanya,harus ada perbedaan yang tegas antara olah raga dan
seni beladiri.Adalah sukar untuk mempersatukan seni beladiri dan olah
raga secara bersama sama``.*
Kata kata ini keluar dari seorang Master Aikido yang diciptakan oleh
Prof.Morihei Uyeshiba yang layak disegani karena keluarbiasaannya,dimana
sebelum Perang Dunia II hanya bisa diikuti golongan atas saja serta
dipejari oleh orang orang tertentu yang dapat dipastikan tidak akan
menyalah gunakannya sesuai prinsip prinsip Aikido.
Seni ini terkenal dengan tehnik tehnik lembut,kecerobohan tenaga lawan
dipakai untuk mengalahkan lawan tersebut,effisien sekali.
Hanya ketekunan dan keyakinan yang luar biasa sempat menjadikan seseorang akhli dalam seni ini.
Walaupun Aikido lebih halus dari Judo,oleh expertnya masih ditekankan
perlunya tenaga (power) dan cara latihan yang sesuai dengan
kenyataan.Demikian juga tidak bisa disangkal,untuk menjadi Judoka yang
baik tenaga adalah mutlak dan praktek dalam latihan sesuai kenyataan
tidak bisa dihindari.
Orang harus mengalami dibanting,dilempar,dilipat juga melipat
lawan,membanting,melempar lawan kadang kadang terjadi cedera,patah
tulang,terkilir dan salah otot,semuanya dianggap wajar untuk mencapai
kenyataan dalam keadaan sesungguhnya.
Kendo,seni bermain pedang,walaupun sebagai alat latihan digunakan kayu
atau kumpulan belahan bambu khusus yang cukup keras,nyatanya siswa
perguruan ini banyak yang mengalami babak belur karena disodok,disambit
dan dipukulkan kearah tubuhnya.
Ini semua dimaksud agar ketrampilan yang diperoleh sesuai keadaan
sebenarnya dan badan serta mental menjadi tabah,sakit dan penderitaan
sudah dianggap suatu keharusan untuk membina ketahanan phisik yang
tinggi.
Di Jepang,anak pulang dalam keadaan babak belur karena latihan di
dojo,tidak menyebabkan orang tuanya marah dan melarang anaknya berlatih
lagi,justru dianjurkan untuk berlatih keras agar lain kali bisa
terhindar dari keadaan yang demikian,penderitaan phisik dalam latihan
sering merupakan kebanggaan untuk mendorongnya lebih maju.Contoh contoh
tersebut dan banyak contoh lain mengajak kita untuk lebih mendekati
kenyataan,mengapa harus makin menjauhi. (*Sedangkan di Tanah Air,anak
pulang dari latihan di dojo,mengeluh apalagi menangis dihadapan orang
tuanya,khususnya ibu karena beratnya latihan,maka prosentasi terbanyak
akan menganjurkan anaknya untuk berhenti berlatih.Untung kalau tidak
sampai marah marah atau menghujat si Pembinanya !!.Perbedaan budaya yang
cukup besar.Di Jepang anak diajar untuk mandiri,percaya diri,harga diri
diutamakan sedangkan di Tanah Air terbanyak
ialah;memanjakan,mengabaikan pembentukan mental dan karakter,apalagi
kalau banyak uang….kalau dewasa….tahu sendiri akibatnya*).Juga dalam
karate ``full contact``, seorang dibina dalam masa yang lama dan
berat,dihadapkan pada kenyataan yang bisa timbul dalam keadaan terpaksa
untuk membela diri,baik dalam menghalau,mengalahkan lawan maupun
kemungkinan apa yang bisa dialami dalam menghadapi penyerangan.
Pertandingan adalah sekedar intermezzo untuk mendekatkan karate pada
masyarakat penggemarnya,tapi bukan tujuan utama,yang utama adalah
pembinaan mental phisiknya dan ketahanannya dalam membeladiri dengan
seni beladiri karate ini.
Dari Silat Tiongkok
Sebagai induknya Karate - Judo - Aikido,khussusnya yang berkembang di
Benua Asia adalah bersumber dari Silat Tiongkok beberapa abad yang
lalu,pada saat itupun, latihan dilakukan dalam keadaan sungguh sungguh
dan cukup berat,kontak phisik adalah hal sehari hari dalam latihan untuk
mencapai hasil yang tinggi sebagai alat beladiri yang utama pada masa
itu.
Dalam pertumbuhan sejarah,silat ini tersebar hampir keseluruh pelosok
Asia antara aliran lemah (halus) dan kuat (keras) ,antara penguasaan
tangan dan ketrampilan kaki dan mengalami asimilasi dengan seni beladiri
yang ada di tempat ia datang.
Karate tumbuh di Jepang sejak tahun 1923 dimana mulai diperkenalkan
oleh Master Gichin Funakoshi,disebut sebagai seni modern,karena telah
mengalami revisi dibeberapa bagian dari keadaan yang murni dari seni
beladiri,juga perbaikan metode dan peraturan peraturannya.
Salah satu yaitu ;dari kontak langsung yang menjadi ciri induknya
menjadi non kontak dengan pengertian,karate modern sebagai olah raga
yang bisa dipertandingkan.
Kalau kita teliti sedalam dalamnya,falsafah karate modern non kontak
dimana pukulan- tendangan langsung menjadi salah satu larangan yang
utama,baik dalam latihan maupun pertandingan,merupakan - alat manusia -
yang menyebut dirinya modern,untuk menjaga SUPREMASI GURU,senior
terhadap muridnya - junior.Sehingga murid bagaimanapun juga tidak bisa
nyata nyata melebihi gurunya dan para seniornya,karena mereka selalu
terlindung dengan ketentuan dan peraturan non kontak bahkan kalau sampai
terjadi si junior menjatuhkan si senior baik dengan pukulan maupun
tendangan,akan memperoleh hukuman karena dianggap melanggar jiwa karate
do yang sudah mengalami revisi tadi.
Akibatnya,semacam kerajaan,pewaris kedudukan adalah secara otomatis
tanpa menghiraukan kecakapan dan kemampuan,menjadi pimpinan yang
berlindung dibelakang peraturan demi keselamatan yang diatas.
Perpecahan sering terjadi karena murid merasa lebih mampu dari guru
karena murid tidak pernah mengalami kemampuan guru secara nyata..
Pelampiasan nafsu?
Sistim kontak langsung bukan berarti pelampiasan nafsu yang tak
terkontrol,justru pada sistim ini pengekangan nafsu adalah mutlak karena
adanya kesempatan full contact (baik tendangan - pukulan boleh
dilemparkan semaksimal mungkin) masih diikuti larangan larangan,dimana
seseorang dianjurkan bertanding keras tetapi tidak kasar (menyalahi
pengertian olah raga) dan justru terbukti pada sistim Full
Contact,pelanggaran fatal lebih sedikit dari Non Contact.
Kontrol emosi jangan diartikan dalam bentuk lahirnya saja,apalagi hanya
dikaitkan dalam pertandingan,control seorang karateka adalah control
dalam arti yang luas,control sikap,control jiwa dalam mengekang emosi
yang angkara murka.
Judo,Kick Boxing dan Tinju adalah contoh pertandingan keras dan
contact, apakah ini berarti semuanya itu pelampiasan nafsu dan bertujuan
menyakiti lawan atau mengalahkan lawan?
Yang menciptakan jiwa karate do modern adalah manusia permulaan abad
XX,tetapi bukan jiwa karate do sebagai seni beladiri asli yang lahir
dari induknya yang satu tadi.
Tanggung jawab karateka full contact tidak dibawah karateka non contact
dan nilai kepribadiannyapun tidak serendah yang mengatakan:``Karate
full contact tidak sesuai prinsip beladiri karate``.
Alasan yang dicari cari untuk mendiskreditkan arti karate full contact sering tidak sejalan dengan logika dan kenyataan.
Mengapa karate harus lari dari kenyataan,sedangkan olah raga keras lain
tetap hidup dengan baik,seperti balap mobil,terjun payung dan motocross
yang tidak kalah besar bahayanya.
Pengertian bahwa karate full contact berbahaya,adalah dalih yang
dilebih lebihkan,prakteknya,para karateka full contact bisa
mengatasinya,karena pertama,persiapan yang lama dan matang sesuai
kegunaannya,kedua,masing masing seimbang dan merupakan - moving target
bagi yang lain sehingga baik pukulan - tendangan yang maksimalpun sukar
untuk mengenai titik sasaran secara tepat karena pergesaran arah dan
sudut,tidak seperti memukul - menendang benda mati,ketiga,karena masing
masing sudah dibekali tehnik dan ketrampilan untuk menetralisir
kedahsyatan serangan lawan.
Kalau sekali kali terjadi kecelakaan,cedara dan hal hal yang fatal,maka
bisa dianggap sebagai risiko dalam segala gerak langkah
kehidupan.,khususnya dalam satu pertandingan,dimana segi ketrampilan
phisik diutamakan.
``Hidup tidak mungkin tanpa risiko tetapi risiko yang sudah diperkecil kemungkinannya``.
Memang harus diakui,sistim full contact tidak bisa digunakan untuk
memasalkan karate,karena beratnya latihan dan khususnya dalam jiyu
kumitenya (perkelahian bebas).
Hanya mereka yang tahan uji,tekun dan sanggup menderita demi mencapai
hasil gemblengan mental phisik yang membutuhkan pengorbananlah,bisa
bertahan.
Ini memang tidak banyak.